Skip to main content

Doktor Juga Butuh NIK

“Kalau cuma begini Mas, saya siap jadi dosennya Beacukai!. Biar saya ajari mereka sampai bisa!! Masa orang sekantor gak ngerti semua?!”, geram seorang klien di siang yang panas itu.

Ilustrasi di atas bukan fiksi. Melainkan kisah nyata bagaimana kesan buruk (bad experience) yang diperoleh seorang klien dapat memicu sikap gebyah-uyah. Apa jadinya jika klien tersebut adalah seorang yang didengar oleh masyarakat? Efeknya tentu bisa berlipat ganda.

Adalah seorang doktor di salah satu kota di Pulau Jawa, yang selain menjadi Direktur Komunikasi dan aktif mengajar di sebuah lembaga pendidikan tinggi, juga berkegiatan sebagai eksportir. Setelah sekian lama melakukan ekspor menggunakan export licence, ia berniat mengajukan permohonan NIK di kantor pabean setempat. Harapannya perusahaan miliknya bisa mandiri dan menjadi eksportir terkemuka.

Namun apa lacur, pengajuan permohonannya ditolak. Sakitnya tuh disini, penolakan terjadi tidak sekali dua kali, tapi sampai tujuh kali! Dan Sang Doktor merasa tidak mendapati solusi terkait hajatnya itu. Dari level pelaksana magang, pelaksana senior, naik ke level kasubsi terus hingga level Kepala Kantor, tidak satu pun bisa memberi solusi. Apa masalahnya? Ternyata segenap jajaran kantor pabean tersebut memang (maaf) tidak menguasai know how pelayanan permohonan NIK. Memang tidak semua hal bisa Anda peroleh di google atau di wikihow.com, termasuk teknis detail perihal NIK ini.

Ekspektasi Sang Doktor mengenai citra profesional, transparan, pelayanan prima dan citra-citra positif lainnya tentang Bea Cukai sementara itu lenyap dari kepalanya. Yang ada hanyalah kekecewaan dan kekecewaan dalam hatinya. Singkat cerita, Sang Doktor diberi rujukan oleh pucuk pimpinan kantor pabean setempat untuk berkunjung ke kantor pabean “bukan setempat” sekira 6 jam perjalanan darat dari kantor pabean setempat. Jangan bingung. Saya memang tidak bisa menyebut kedua nama kantor di atas.

Dengan semangat akademisi seorang doktor yang selalu rindu pada solusi, klien ini akhirnya tiba di kantor “bukan setempat” berharap secercah harapan mengenai hajatnya, tentang NIK-nya yang belum kesampaian. Di kantor pabean “bukan setempat” itu, Sang Doktor tidak sempat bertemu dengan pejabat selevel Kasi apalagi Kepala Kantor. Ia hanya bertemu dengan seorang Pelaksana yang tergolong muda (yang jelas bukan saya!). Namun dalam ruangan yang ala kadarnya itu Sang Doktor seperti menemukan oase di tengah gurun. Ia peroleh informasi lengkap mengenai pengajuan permohonan NIK. Ia mendapat asistensi pengisian form pada aplikasi NIK melalui portal pengguna jasa. Hajatnya seperti lepas landas dari konstipasi pelayanan profesional yang selama ini mengganjal. Lega.

Namun manusia tidak pernah puas. Mengetahui proses pengajuan NIK semudah itu, Sang Doktor tetiba menjadi geram kemudian berkelakar bahwa ia sanggup mengajari seluruh punggawa pabean di kotanya agar memahami persoalan NIK. Kelakarnya seolah ingin mengatakan bahwa masyarakat yang berurusan dengan Bea Cukai perlu sosok pahlawan penunjuk jalan – seakan-akan Bea Cukai adalah rimba yang gelap dan lembab (bukan basah, hanya lembab). Jiwa korsa Si Pelaksana yang masih anget karena belum lama lepas samapta itu pun menepis halus kelakar Sang Doktor. Bea Cukai akan terus berbenah menuju institusi kepabeanan terkemuka di mata masyarakat Indonesia. Terkemuka dalam pengawasan dan pelayanan. Terkemuka dalam reformasi birokrasi dan transparansi. Terkemuka dalam hal pemberantasan korupsi. Terkemuka dalam semua yang baik (termasuk take home pay, amin..).

Atas hal itu Sang Doktor mencoba paham. Namun dalam urusan NIK tadi logikanya tidak dapat mencerna. Bahwa apabila dalam dunia medis, seorang dokter umum di Puskesmas merujukkan pasien jantung ke Rumah Sakit yang memiliki dokter spesialis jantung guna penanganan lebih lanjut. Di dunia Bea Cukai, seorang “dokter spesialis jantung” juga merujukkan pasien ke “rumah sakit yang memiliki dokter spesialis jantung” tapi setibanya disana, pasien hanya diusap oleh suster perawat penyakitnya sudah sembuh. Sakti sekali Bea Cukai!


Sumbangsih tulisan dari seorang sahabat untuk dimuat di www. pakgiman.com.
Terimakasih sahabatku.


(^_^)
Semoga bermanfaat
Pakgiman.com

11 thoughts to “Doktor Juga Butuh NIK”

  1. Keren banget tulisan pak giman.
    Tapi apa itu beneran nyata ya..
    Setau saya sih pelayanan di bea cukai itu udah transparan dan serba pasti..

    1. Sdr/i. Meme, itu adalah tulisan kiriman dari teman saya. Jika dia bilang itu kisah nyata, maka tidak ada dasar bagi saya untuk menyangsikannya. Saya percaya padanya.

  2. Sepertinya saya pernah mendengar cerita ini, namun tidak terfikir untuk mengangkatnya menjadi tulisan inspiratif seperti yang pakgiman tuliskan.

    Sudah saatnya beacukai maju dengan kompetensi, mari kita mawas diri dan selalu introspeksi. Bravo BC!

    1. Sdr/i Kurusetra, memang sudah saatnya bea dan cukai dan institusi pemerintahan lainnya maju, profesional dan mampu memberikan pelayanan terbaiknya. Mari kita dukung bersama. Bravo!

  3. kalo pak giman dpt cerita ttg alien mendarat di bantul dan teman pak giman bilang itu kisah nyata, mgkn pak giman jg gak ada alasan buat menyangsikannya ya? ironis sekali

    1. Sdr/i Alex. Saya percaya bahwa mempercayai teman adalah hal yg baik dan benar untuk dilakukan. Kalaupun suatu saat saya dibohongi oleh teman, itulah romantika kehidupan. Saya sadar bahwa dunia bukan tempat yang sempurna.

    1. Pak embe212, Kawasan Berikat adalah juga bagian dari kepabeanan, tentunya juga akan menjadi fokus dan materi dari situs ini, kalaupun belum ada posting tentangnya, itu karena belum sempurnanya kami mengelola situs ini. Jika ada pertanyaan seputar Kaber, silakan disampaikan, akan kami jawab dengan sebaik-baiknya. Pun, jika memungkinkan, akan kami sajikan dalam artikel tersendiri.

      Terima kasih atas perhatian dan pertanyaannya. Salam sukses.

  4. Pakgiman*tanpaspasi, bukan maksud saya menggurui hanya ingin memberikan saran, menurut saya tulisan pakgiman*tanpaspasi sudah bagus,bahkan saya sangat terkesan dengan gaya penulisan bapak.Tapi menulis dengan bagus saja belum bisa dikatakan layak untuk sebuah artikel,saya hanya mengacu pada visi pakgiman*tanpaspasi untuk membagi ilmu,jadi artikel pakgiman*tanpaspasi merupakan bagian dari Karya Ilmiah,alangkah lebih bijak jika dalam artikel juga ada unsur kevalid-an data. Sehingga informasi juga tidak menjadikan sebuah ambigu.Mohon maaf jika saran saya tidak berkenan,karna menurut saya tulisan pakgiman*tanpaspasi dikonsumsi untuk kalayak luas, yang nota bene belum tentu berangkat dari bidang ilmu yang sama dengan bapak.

Leave a Reply