Skip to main content
konversi

Konversi

Entah kenapa aku seketika terpikir untuk menulis tentang hal ini. KONVERSI. Dalam kamusku, yang dimaksud dengan konversi adalah kemampuan merubah sesuatu menjadi sesuatu hal yang lain. Konversi bagiku adalah suatu pemahaman, skill atau kemampuan. Bahkan terkadang aku sampai menganggapnya sebagai suatu ilmu, setara dengan matematika atau biologi. Konversi ini, sebagai suatu pemahaman, ilmu atau apalah kalian menyebutnya, sangat penting untuk dimengerti. Pemahaman tentang konversi ini akan mampu memberikan suatu sudut pandang yang baru. Konversi ini merupakan salah satu favoritku, aku sangat menyukainya. Kelak jika kalian memahami, mungkin kalian akan merasakan apa yang kurasakan.


Aku merasa perlu untuk menuliskannya. Aku melihat di sekitar kita banyak yang tidak memahami konsep ini. Buktinya adalah terlalu banyak sumber daya yang mubazir. Sebenarnya jika orang-orang di sekitar sumber daya itu mengerti tentang konsep konversi, maka hal seperti itu seharusnya tidak terjadi. Mungkin sebenarnya mereka mengerti. Namun ya itu tadi, mereka hanya sebatas mengerti, kurang memahami, sehingga tidak mempengaruhi hidup mereka.

Semua orang tahu bahwa kambing makan rumput dan kita makan kambing. Itu sebuah konversi. Itu contoh paling sederhana bagaimana agar manusia bisa memakan rumput. Caranya yaitu dengan mengkonversinya dengan menggunakan perantara kambing. Kambing, sapi, kelinci, kucing dan sejenisnya adalah contoh konversi yang semua orang tahu. Eh, maaf, kucing gak termasuk. Jangan makan kucing. Jangan sekali-kali makan kucing. Please, jangan.

Poin dari konversi adalah nilai tambah. Masalah keberhargaan. Rumput tidak akan berharga bagi manusia yang tidak memiliki kambing. Seluas lapangan bola pun kebun yang berumput tak akan berharga bagi orang yang tidak memiliki perangkat untuk mengkonversinya menjadi sesuatu yang berguna bagi orang itu. Lalu, pernahkah kalian terpikir bahwa bisa jadi banyak hal melimpah di sekitar kita yang bahkan tak tampak oleh kita hanya karena kita tidak memiliki ‘kambing’. Waktu yang berlimpah, teman yang banyak, internet kantor yang aduhai kencangnya, itu adalah contoh rumput-rumput yang segar bukan?

Ada satu hal penting yang aku rasa perlu untuk dicatat. Tidak semua konversi semudah dan se-otomatis kambing. Pisau adalah perangkat konversi untuk merubah balok kayu menjadi patung. Tapi tidak dengan menyatukannya di suatu tempat dan berharap pisau akan mengukir sendiri balok itu menjadi patung. Butuh skill lain untuk merubah balok menjadi patung meskipun kita telah memiliki pisau. Tapi jika kalian sudah menyadari bahwa balok bisa dirubah menjadi patung, itu sudah merupakan hal yang bagus. Tinggal bagaimana kita mengembangkan kemampuan ini ke depannya.

Konversi dapat juga dilakukan bertingkat. Kembali dengan contoh kambing tadi, mungkin yang kita punyai bukan rumput, tapi kebun gersang yang luas. Agar kebun gersang tadi berguna bagi kita sebagai manusia, kita bisa mengkonversinya menjadi daging dengan menggunakan kambing, namun terlebih dahulu kita harus mengkonversinya menjadi rumput. Tingkatan konversi ini bisa berlapis tergantung pemahaman orang akan konversi. Kemampuan yang lebih tinggi tentunya akan mampu melihat tingkatan lebih jauh.

Selain bertingkat, konversi juga dapat bersifat komprehensif. Dalam artian beberapa sumber daya yang berbeda dapat dipadu-padankan untuk menghasilkan satu nilai tambah. Misalkan saja cabai, tomat dan gula kita konversi menjadi sambal dengan perantara cobek.

Yang pernah saya lakukan adalah saya mengkonversi waktu luang, kemampuan menulis dan internet kantor yang kenceng menjadi uang. Caranya dengan membuat situs, tapi bukan blog ini. Untuk blog ini saya mengkonversi hal yang sama menjadi kebaikan dan pahala. Bukankah kebaikan adalah suatu yang juga berharga bagi hidup kita.

Belum lagi jika pemahaman tentang konversi ini kita padukan dengan pemahaman tentang materialitas. Apa itu materialitas, nanti akan kita bahas lebih detail pada posting tersendiri. Inti dari materialitas adalah perbandingan antara keberhargaan dengan kuantitas dari suatu benda atau barang, baik berwujud maupun tidak berwujud. Semakin langka atau sedikit suatu barang maka hukum alam akan bilang bahwa barang itu semakin berharga. Emas itu kalo berlimpah layaknya batu kali tentu tidak akan semahal ini harganya.

Jika kita memahami kedua konsep ini, maka tidak perlu bagi kita berebut sumber daya. Dengan konsep tentang materialitas kita akan terlatih untuk melihat keindahan dari suatu kuantitas. Barang yang berlimpah biasanya tidak berharga. Dengan konversi kita bisa merubah yang tidak berharga menjadi berharga. Tinggal mencari kambing yang cocok untuk sumber daya yang berlimpah itu.

Saran saya yang paling sering saya sampaikan kepada teman dan orang sekeliling saya adalah lihatlah sekeliling, sadarilah apa yang ada, carilah hal-hal yang mubazir untuk kita konversi menjadi sesuatu bentuk yang lain. Jika kita sudah mendapati hal yang besar, banyak dan mubazir tadi tapi masih bingung mau dikonversi jadi apa, pikirkanlah tentang uang. Iya uang. Kenapa uang? Karena uang adalah konverter nomor satu di dunia. Rubahlah atau konversikan hal melimpah di sekitar kita itu menjadi uang. Find the way to make money from it. Aku yakin setelah jadi uang, kamu tidak akan bingung lagi mau dikonversi jadi apa?

Poinnya adalah aku ingin kalian menyadarinya. Yang ku tulis ini bukan hal baru, dan bukan pula hal yang hebat. Setiap hari terpampang di hadapan kita. Aku menuliskannya agar kalian lebih lagi dalam menyadarinya. Jangan biarkan sesuatu mubazir tanpa terkonversi dengan baik.

Hampir setiap manusia adalah pencari nilai, pencari suatu keberhargaan. Sebagian orang menilai prestasi sebagai tujuan, sebagian lain mencari kedamaian, harta, aktualiasi. Semuanya tentang keberhargaan hidup. Dan jika kita memang demikian adanya, maka konversi sangat penting untuk dipahami. Dengan pemahaman yang baik tentang konversi kita akan mampu melihat nilai yang mungkin orang lain tidak melihatnya. Melihat tumpukan berkas dokumen-dokumen kantor  yang lama dan berdebupun mungkin kita bisa bergumam: Duit ini!

* Tentang konversi ini aku telah lama memikirkannya. Aku juga sudah berusaha sebaik mungkin untuk menuliskannya. Namun, sampai pada kata terakhir ini pun rasanya apa yang ada di benakku ini belum tersampaikan dengan baik. Bagaimanapun, ini adalah kerja terbaikku.  

* Tulisan ini awalnya adalah catatan pribadi dan ku unggah di personal blog. Aku pikir mungkin ada baiknya ku re-share ke sini agar lebih tersebar-luas.  Semakin banyak yang membacanya semoga saja semakin banyak yang dapat mengambil manfaat dari tulisan ini. Sekecil apapun manfaat itu.

(^_^)

Pak Giman

Saya berasal dari Weleri, pernah bersekolah di STAN dan sekarang bekerja sebagai Auditor. Saya adalah ayah dari Kesuma Nurani Sejati.

6 thoughts to “Konversi”

  1. Berbicara mengenai konversi, satu hal terpenting adalah mengetahui definisinya terlebih dahulu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ,konversi/kon·ver·si/ /konvérsi/ n 1 perubahan dari satu sistem pengetahuan ke sistem yang lain; 2 perubahan pemilikan atas suatu benda, tanah, dan sebagainya; 3 perubahan dari satu bentuk (rupa, dan sebagainya) ke bentuk (rupa, dan sebagainya) yang lain.

    Satu kata kunci utamanya adalah “perubahan”, maka perlu kiranya beberapa hal penting yang harus diperhatikan :
    1. Kreativitas, creativity or idea to create or converse something into more valuable thing.
    2. Biaya, conversion cost.
    3. Cara/strategi untuk melakukan perubahan, How to converse ?
    Setuju dan senada dengan penulis, bahwa konversi selalu punya tujuan dasar untuk meningkatkan nilai (value) atau keberhargaan (menukil kata-kata penulis).

    Sedikit tambahan, kalau terlalu banyak entar jadi tulisan tersendiri mas Giman
    Good luck n keep writing
    Remember This : ……Scripta Manent, Verba Volant….!!

    1. Saya tahu bahwa sebenarnya Mas Sheeva ini sangat berkualitas dalam hal sastra dan bahasa. Sangat disayangkan kenapa hanya dipakai sendiri dan tidak diwujudkan dalam bentuk yang bisa dinikmati orang banyak. Saya sangat mengagumi kepandaian Mas Sheeva dalam merangkai kata-kata menjadi syair, lirik, prosa atau apalah namanya, yang sering saya jumpai di postingan facebook. Meskipun terkesan kuno, masih banyak lho penikmat puisi di muka bumi ini. Bantulah mereka menghapus dahaga akan kata-kata yang indah dan penuh makna.

      Btw, apa itu … Scripta Manent, Verba Volant …?

  2. Pak Giman yang Keren…

    Saya kagum dengan tulisan tentang Konversi ini, saya baru menyadari bahwa waktu luang yang banyak dan internet kantor yang wus wus unlimited saya biarkan begitu saja, semoga saya bisa bangkit untuk dapat mengkonversinya menjadi lebih bernilai.

    tetap menulis Pak Giman,
    Salam

    1. Mas Lutfi yang keren juga,

      Terima kasih atas apresiasinya ya mas. Mari saling mengingatkan agar hidup jadi lebih indah.

      Salam kenal, salam hangat.

  3. Terlepas tepat tidaknya penggunaan kata “konversi”, tapi tulisannya sangat MANTAF & INDPIRATIF, lanjutkan!!

Leave a Reply