Cara Belajar

Saya punya 3 cara belajar. Saya merasa ini cara paling efektif ketika saya mempelajari sesuatu. Bisa jadi ini adalah masukan baru untuk kalian. Atau setidaknya menguatkan cara belajar yang sebelumnya yang telah kalian praktekkan.

  1. CBAB: Cara Belajar Anak Bayi
  2. BTDA: Baca, Tulis, Diskusi dan Ajarkan
  3. TUSE: Tulis Ulang Sampe Elek

Beda materi yang mau dipelajari, beda cara saya mempelajarinya. Bisa menggunakan salah satu, atau gabungan dari cara belajar tersebut.

Belajar itu menyenangkan. Yang menyedihkan itu ujiannya. Takut dapet nilai jelek. Takut kalah sama yang lain. Pola pendidikan di zaman saya memang begitu. Tidak hanya memberikan materi, pendidikan juga sarat dengan nuansa berkompetisi. Pengajar lebih lebih memberi perhatian pada siswa berprestasi dibanding mereka yang tertinggal.

Tapi itu dulu. Sekarang seharusnya sudah tidak begitu lagi. Semakin banyak orang pintar dunia akan jadi semakin baik. Kita tidak butuh orang yang bisa mengalahkan orang lain. Yang kita butuhkan adalah orang yang bisa membantu orang lain. Orang yang mau berbagi dan mengajari orang lain. Mengangkat mereka mencapai taraf hidup yang lebih baik.


CBAB: Cara Belajar Anak Bayi

Pernahkah kalian melihat cara bayi belajar? Kalian yang sudah mempunyai anak pasti pernah melihatnya. Hanya saja mungkin kalian tidak mengamati dan menelaahnya.

Bayi yang sedang belajar berjalan, dia melakukannya tanpa membaca buku. Dia bahkan belum bisa membaca. Dia melakukannya dengan mengikuti naluri dan mencoba segala hal. Seringkali terjatuh dan menangis karena rasa sakit. Tapi dia akan mengulanginya lagi dan lagi. Dia tidak takut gagal. Dia tidak takut sakit. Dia tidak berpikir bahwa sakit itu seharusnya dihindari. Itu pengalaman baru baginya.

Bayi yang belajar berbicara, seketika dia akan bersuara. Pita suaranya bahkan belum sempurna menguraikan kata-kata, tapi dia bersuara. Dia mencoba untuk berbicara tanpa membaca buku. Dia mendengar dan menirukannya. Memang terdengar lucu dan seringkali membuat kita tertawa. Dia tidak merasa malu. Tidak merasa kita menertawakannya. Dia belum mengerti bahwa apa yang dilakukannya itu salah.

Anak bayi tidak mengenal rasa takut. Mereka juga tidak punya rasa malu. Mereka bahkan belum mengerti arti kedua kata itu.

Malu dan takut adalah kata yang paling menghambat kita dalam belajar. Keduanya lebih jahat dari kegagalan. Kegagalan masih memberikan kita pengalaman. Mereka sama sekali tidak memberikan apapun. Mereka membunuh mimpi bahkan sebelum kita mencobanya.

Jika kita bisa mengabaikan kedua kata itu, proses belajar kita akan sangat efektif. Menghindari kegagalan kadang menyita waktu lebih banyak daripada kita mempersiapkan kesuksesan. Kita menghindari kegagalan karena kita takut gagal. Kita malu jika itu sampai terjadi.

Cara belajar ini sangat cocok untuk mempelajari sesuatu yang terkait dengan keahlian. Jika ingin menguasai sesuatu mulailah dengan melakukannya. Meski kalian belum pernah membacanya lakukan saja. Meski belum ada yang pernah mengajarinya, bodo amat. Just Do It!


BTDA: Baca Tulis Diskusi dan Ajarkan

Ini adalah cara belajar saya yang kedua. Diajarkan oleh guru ngaji di kampung. Katanya ini cara belajar zaman nabi. Saya tidak mencari tahu kebenarannya. Beliau bilang ini cara belajar zaman nabi. Beliau tidak mengatakan ini cara belajarnya nabi.

Belajar yang benar menurutnya ada empat proses, yaitu membaca, menulis, mendiskusikannya, lalu mengajarkannya. Empat proses ini saling melengkapi. Ketika kita sudah mampu mengajarkannya, pembelajaran kita sudah dianggap lengkap. Itulah sebabnya di pesantren siswa yang sudah selesai diharapkan mengabdi untuk mengajari juniornya.

Cara belajar ini berguna untuk mempelajari sesuatu yang tidak kita alami sendiri. Pengalaman dengan menjalaninya sendiri adalah proses belajar yang berada di atas keempat proses itu. Saya menempatkannya di urutan kedua setalah cara belajar anak bayi.

Keterbatasan waktu dan kesempatan membuat kita tidak bisa mempelajari semua hal dengan menjalaninya. Kita harus belajar dari orang lain. Bisa membaca buku atau mendengar cerita. Mendengar termasuk kategori membaca. Mendengar adalah membaca dengan telinga.

Guru saya mengatakan: “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Daya ingat manusia sangat terbatas. Hanya orang-orang tertentu yang dikaruniai ingatan luar biasa. Secara umum manusia mudah lupa. Menulis ini akan mengobati kelupaan. Dengan menulis, kita bisa membacanya lagi dan lagi.

Proses ketiga adalah berdiskusi. Hal ini penting agar kita tidak salah membaca, tidak salah mencatat. Siapa tahu ada yang terlewat oleh kita. Beda manusia akan berbeda pula sudut pandangnya. Berdiskusi akan meluaskan sudut pandang. Tidak hanya melihat dari tempat kita berpijak. Gajah dari depan akan tampak belalainya. Dari belakang akan tampak ekornya.

Terakhir adalah mengajarkannya. Mengajar berbeda dengan berdiskusi. Ketika berdiskusi, kita cenderung untuk menyampaikan sudut pandang kita. Mengajar memaksa kita untuk menyelami sudut pandang orang lain. Bersiap mengajar juga memaksa kita mempelajari sesuatu secara menyeluruh. Jangan sampai ada pertanyaan murid yang kita belum pelajari.


TUSE: Tulis Ulang Sampe Elek

Ini adalah ajian pamungkas. Jurus dewa mabuk. Cara jitu yang saya sering gunakan ketika saya harus mempelajari sesuatu yang tidak saya sukai. Sayangnya cara ini hanya berlaku untuk mempelajari sesuatu yang sudah ada bukunya.

Tulis ulang saja semuanya. Kalau sekarang zamannya mengetik, ya ketik ulang saja semuanya. Mudeng gak mudeng tulis! Paham gak paham ketik!

Ada beberapa kelebihan dari cara ini. Menulis ulang tingkat mengantuknya lebih rendah dari membaca. Hal ini dikarenakan menulis merupakan suatu kegiatan fisik. Dengan menulis ulang, kita pasti membaca. Kalaupun tidak masuk ke pikiran, setidaknya kepala kita geleng-geleng. Bergerak dari buku bacaan ke buku tulis. Ini akan melancarkan aliran darah.

Menulis ulang dapat membangkitkan rasa ingin tahu. Yang tadinya tidak menarik, sejalan dengan proses menulis kadang jadi menarik. Ini sering saya alami sendiri. Malah terkadang niatnya menulis ulang, jadinya malah merangkum. Secara kuantitas yang saya tulis menjadi lebih sedikit. Tapi secara kualitas pastinya lebih baik karena untuk merangkum kita harus berpikir.

Menulis ulang juga memberikan masukan ke alam bawah sadar. “Kayaknya pernah baca, tapi dimana ya?” Kekuatan alam bawah sadar ini terkadang keluar disaat-saat genting. Niatnya ngarang, gak tahunya bener.

Kalaupun ternyata tidak ada yang masuk, setidaknya kita melatih kemampuan menulis. Waktu saya sekolah, semua ujian bentuknya tertulis. Bisa menulis lebih cepat tentunya suatu kelebihan yang sangat berguna.

Jika menulis ulang ini dilakukan di dalam kelas, guru atau pengajar pasti akan menilai positif. Kesibukan ini juga dapat menghindarkan kita dari perbuatan negatif yang bisa mengurangi nilai aktifitas.

***

Admin

Saya berasal dari Weleri dan sekarang tinggal di Semarang. Saya pernah bersekolah di STAN dan sekarang bekerja sebagai Auditor. | Phone: 0856-9579-1321 | IG: @instagiman | Twitter: @pakgiman

Tinggalkan Balasan