Korektif

Mengoreksi atau membetulkan kesalahan orang lain sebenarnya adalah perbuatan yang baik. Tapi perbuatan ini memiliki efek samping. Korektor, atau orang yang korektif, biasanya akan dijauhi oleh banyak orang. Ini terjadi karena orang pada dasarnya tidak ingin kesalahannya diketahui oleh orang lain.

Kata korektif merupakan saduran dari kata corrective. Dalam bahasa Inggris, corrective berarti memperbaiki atau perbaikan. KBBI online menuliskan arti kata dari koreksi adalah pembetulan, perbaikan, atau pemeriksaan. Sedang korektif adalah bersifat korek (memperbaiki, teliti, berdisiplin).

Korektif yang saya maksud disini adalah koreksi yang dilakukan secara verbal sebagai bagian dari cara berkomunikasi. Bukan koreksi atau evaluasi atas suatu pekerjaan. Guru mengoreksi pekerjaan rumah anak didiknya atau atasan mengoreksi pekerjaan anak buahnya adalah hal yang lumrah dan memang sudah seharusnya. Korektif yang maksud disini lebih kepada komplain dan komentar.

Setiap perilaku pasti ada motivasi yang mendasarinya dan konsekuensi yang akan didapatkannya. Memahami motivasi dan konsekuensi perilaku korektif akan menambah wawasan dan membuka mata.


Motivasi

Motivasi untuk mengoreksi kesalahan orang lain bisa datang dari dalam diri orang yang melakukannya. Ada sebagian orang yang memang senang membetulkan kesalahan orang lain untuk menunjukkan kepintarannya. Kesalahan orang lain adalah panggung untuk menampilkan kepandaiannya. Dia menguraikan kesalahan yang dia temukan dengan begitu detail. Seringkali tanpa disertai saran perbaikan.

Mereka mengoreksi secara terbuka. Mungkin dengan suara yang lantang. Malah kadang dengan nada mencemooh. Semakin banyak orang yang mendengar akan semakin membuatnya bersemangat. Dia ingin menunjukkan bahwa dia benar dan orang lain salah.

Orang yang salah dalam berkata, berpakaian, atau berperilaku, semua bisa menjadi alasan untuk dia berkomentar. Seringkali tanpa memedulikan perasaan orang yang dikomentarinya. Orang-orang seperti ini sangat berbahaya. Dia mencibir dengan dalih mengoreksi.

Di sisi lain ada juga orang yang mengoreksi karena didasari rasa sayang. Setiap kesalahan pasti memiliki konsekuensi. Dia tidak ingin orang lain menderita konsekuensi atas kesalahan itu. Mengoreksi untuk memperbaiki. Dia menitikberatkan perhatian pada kepentingan orang yang dia koreksi. Ini merupakan suatu bentuk kepedulian.

Mereka akan memberitahu orang yang melakukan kesalahan dengan cara yang rahasia. Dengan perkataan yang santun dan suara yang rendah. Mereka tidak akan mengoreksi secara terbuka. Mereka tidak ingin membuat malu mereka yang melakukan kesalahan.

Kedua alasan atau motivasi ini ibarat siang dan malam. Satu terang sedang yang lainnya gelap. Mereka yang membetulkan kesalahan orang lain dengan niat yang tulus menurut saya sangat mulia. Mereka yang mengoreksi orang lain hanya untuk memperlihatkan kepandaiannya menurut saya sangat tidak bijak.

Jangan tanyakan motivasi perilaku korektif ini kepada para pelakunya. Mereka pasti akan menjawab bahwa mereka melakukan itu untuk memperbaiki. Mereka akan berdalih bahwa yang dilakukannya adalah demi kebaikan orang lain.

Lihatlah motivasi ini dari bagaimana cara dia melakukannya. Jika dia mengoreksi di depan umum, tanpa memberikan solusi, menggunakan suara yang keras, itu adalah pertanda bahwa dia melakukan itu untuk dirinya sendiri.


Konsekuensi

Motivasi yang berbeda akan mendapatkan konsekuensi yang berbeda pula. Sebagaimana alasan orang melakukannya, konsekuensi ini juga ada yang bersifat internal dan ada yang bersifat eksternal.

Dari sisi internal, orang yang sering mengoreksi akan semakin pandai mencari kesalahan. Semakin sering dia melakukannya dia akan semakin terlatih.

Diantara teman yang kita miliki, atau dari banyaknya rekan di tempat kerja, pasti ada orang yang seperti ini. Dia sangat vokal dalam menyuarakan ketidakbenaran. Dia mencari perhatian dengan membicarakan kesalahan. Mereka adalah para oposisi.

Selain pandai mencari kesalahan, mereka yang suka mengoreksi kesalahan orang lain akan menjadi seorang yang defensif. Mereka menilai perbuatannya sebagai bentuk dari penyerangan. Wajar jika mereka mempersiapkan diri untuk bertahan. Mereka akan pandai berargumen. Mereka tidak mudah menerima sudut pandang orang lain.

Dari sisi eksternal, mereka yang dikoreksi biasanya akan menjauhi orang yang mengoreksinya. Ini juga wajar dan dapat dipahami. Untuk bisa mengoreksi orang kita harus menunjukkan kesalahannya. Itu akan membuat mereka terlihat bodoh. Tidak ada orang yang suka terlihat bodoh.

Sebagian orang menjauh, sebagian yang lain mungkin tetap dekat untuk mencari kesempatan membalas dendam. Orang pasti merasa tidak nyaman ketika dikoreksi. Ketidaknyamanan ini harus berbalas. Dia tidak mungkin membenci dirinya sendiri. Dia akan melampiaskan kekesalannya pada orang lain. Target paling relevan adalah orang yang mengoreksinya. Dia akan mencari kesalahan para korektor untuk kemudian balik mengoreksinya.

Menjauh, atau mencari kesempatan untuk memberikan pukulan terbaik, bisa dilakukan seseorang tanpa niatan. Hanya bagian dari pertahanan diri dan bahkan tanpa disadarinya.


Tidak Perlu Mengoreksi Orang Lain

Menurut saya kita tidak perlu mengoreksi kesalahan orang lain. Yang perlu kita koreksi adalah kesalahan kita sendiri. Jika kita melihat orang lain melakukan kesalahan, yang perlu kita lakukan adalah mengingatnya, agar ke depan kita tidak melakukan kesalahan yang sama.

Mereka yang melakukan kesalahan biasanya beranggapan bahwa mereka benar. Kalau sedari awal mereka tahu bahwa itu sebuah kesalahan mereka pasti tidak akan melakukannya. Salah menurut kita bisa jadi benar menurut mereka. Perbedaan persepsi ini bisa memunculkan konflik. Diawali dengan adu argumentasi. Niat memperbaiki malah akan dimaknai sebagai upaya kita untuk menjatuhkannya.

Mereka yang melakukan kesalahan biasanya juga akan sadar dengan sendirinya bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Mereka bisa menyadarinya seketika setelah kejadian itu atau mungkin jauh hari setelahnya.

Jika terpaksa harus mengoreksi orang lain, kita harus melakukannya dengan sangat hati-hati dan hanya kepada orang-orang tertentu. Hanya lakukan koreksi terhadap orang-orang yang sudah begitu dekat dengan kita.

Koreksilah mereka yang keakrabannya dengan kita tidak akan terciderai hanya karena kita mengingatkannya. Lakukan hanya kepada mereka yang tahu bahwa kita peduli dengannya. Dia tahu bahwa apa yang kita lakukan adalah untuk kebaikannya, bahkan tanpa kita perlu menjelaskan. Untuk orang-orang seperti ini saya malah sangat menyarankan untuk kita berani berlaku korektif kepadanya. Kebaikan teman kita adalah kebaikan diri kita juga.

***

Admin

Saya berasal dari Weleri dan sekarang tinggal di Semarang. Saya pernah bersekolah di STAN dan sekarang bekerja sebagai Auditor. | Phone: 0856-9579-1321 | IG: @instagiman | Twitter: @pakgiman

Tinggalkan Balasan