Mindogaweni

Mindogaweni adalah istilah dalam bahasa Jawa. Terjemahan bebasnya adalah mengulangi pekerjaan. Kata ini cenderung memiliki makna negatif.

Saya pernah menuliskan status di aplikasi whatsapp. Saya menulis: “Tidurnya orang berilmu lebih baik daripada bekerjanya orang bodoh.” Ada yang salah paham dengan kalimat itu dan menganggap saya terlalu merendahkan.

Menurut saya tidak. Jangankan tidurnya orang berilmu, bahkan tidurnya orang bodoh tetap lebih baik daripada dia bekerja. Orang yang bodoh mengerjakan sesuatu secara salah. Bukannya memberikan nilai tambah, dia malah menyebabkan kita harus mengulangi pekerjaannya.

Apalagi jika pekerjaan itu adalah bangunan fisik. Mengulangi pekerjaan tidak bisa dilakukan tanpa merubuhkan yang sudah dibangunnya terlebih dahulu.

Bekerja bersama orang bodoh bukannya mengurangi pekerjaan menjadi lebih ringan, tapi malah akan menambah pekerjaan.

Indikasinya kebodohan ini sederhana saja. Jika ada yang pernah mengatakan kepada kita: Udah kamu diam saja disitu, biar saya yang kerjakan. Daripada nanti nambah ribet.” Itu indikasi kita bodoh. Mulailah belajar.


Tingkatan Kepandaian

Mindogaweni sering dilakukan oleh seorang yang bodoh. Kebodohan itu sendiri ada tiga tingkatan. Ada orang yang berpura-pura bodoh, ada orang yang tahu kalau dia bodoh dan ada orang yang tidak tahu kalau dia bodoh.

Orang yang pura-pura bodoh berarti dia tidak bodoh. Tidak bodoh berarti pintar. Bahkan mungkin dia lebih di atas pintar. Bisa berpura-pura bodoh artinya dia bersiasat. Dalam bahasa jawa perilaku ini disebut “mbodo”. Mbodo adalah hasil dari pinter-pinter.

Orang yang tahu kalau dia bodoh akan tahu diri. Dia mungkin akan dikenal sebagai seorang yang rendah hati. Dia akan disukai banyak orang. Dia tahu memiliki kekurangan. Dia akan berusaha mengembangkan diri. Orang yang tahu kalau dia bodoh memiliki potensi untuk menjadi seorang yang pintar.

Orang yang tidak tahu bahwa dia bodoh adalah orang yang paling menyebalkan. Begitu bodohnya sampai dia sendiri tidak mengetahui kebodohannya. Dia merasa pintar. Dia tidak akan belajar. Pekerjaan yang dia lakukan hanya akan menyebabkan kesusahan orang lain untuk mengulang pekerjaannya. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang mindogaweni.

Begitu juga dalam hal kepintaran. Pintar adalah lawan kata dari bodoh. Kepintaran juga memiliki tingkatan. Ada orang pura-pura pintar, ada orang yang tahu dia pintar dan ada orang yang tidak tahu bahwa dia pintar.

Kita mungkin tidak terbiasa dengan istilah pura-pura pintar. Yang kita kenal mungkin adalah istilah sok pintar. Orang yang sok pintar ini serupa dengan orang bodoh yang tidak tahu kalau dia bodoh. Bisa jadi mereka adalah orang yang sama.

Yang terbaik mungkin adalah orang yang tahu kalau dia pintar. Mereka memiliki kepercayaan diri. Mereka bisa diandalkan. Mereka tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya.

Ada juga orang yang tidak tidak tahu bahwa dia pintar. Mereka biasanya berada di tempat yang salah. Bergaul dengan orang yang lebih pintar memang akan menyebabkan kita rendah diri dan merasa bodoh. Meskipun sebenarnya dia pintar.

Mereka yang belajar di pesantren pasti pintar ilmu agama. Tapi diantara mereka pasti ada yang merasa mereka tidak pintar karena mendapatkan peringkat yang rendah. Mereka akan mengetahui kepintaran mereka jika mereka mau keluar dan bergaul dengan mereka yang tidak pernah belajar di pesantren.


Perilaku Sesuai Kebutuhan

Saya menyebut ada enam tingkatan kepandaian. Ada orang yang berpura-pura bodoh, orang yang tahu kalau dia bodoh dan orang yang tidak tahu bahwa dia bodoh. Ada juga ada orang yang sok pintar, orang yang tahu kalau dia pintar dan orang yang tidak tahu bahwa dia pintar.

Dari keenam tingkatan itu, ada dua yang menarik perhatian saya, yaitu orang pintar yang mengetahui kepintarannya, dan mereka yang berpura-pura bodoh. Yang ideal mungkin adalah kita pintar dan tahu bahwa kita pintar. Tapi berpura-pura bodoh kadang juga sangat bermanfaat

Dunia terkadang bukan tempat yang ideal. Berlaku ideal pada situasi yang tidak ideal akan menyusahkan diri sendiri. Mengetahui tingkatan kepandaian akan membuat kita mempunyai pilihan untuk berperilaku.

Di kantor sering kali terjadi rasio 40-60. 40% orang mengerjakan 60% pekerjaan, sedang 60% lainnya hanya mengerjakan 40% sisanya. Ini terjadi karena biasanya pimpinan memberikan pekerjaan lebih kepada mereka yang mampu menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat dan lebih baik. Jika ini terjadi, mungkin berpura-pura bodoh perlu dilakukan untuk mendapatkan keadilan. Berpura-pura bodoh akan membuat kita terhindar dari pekerjaan yang tidak perlu.

Kita boleh berpura-pura bodoh, tapi jangan pernah jadi orang yang benar-benar bodoh. Apalagi sampai tidak mengetahui bahwa kita bodoh. Jangan sampai menjadi orang yang mindogaweni dan menyusahkan orang lain.

***

Admin

Saya berasal dari Weleri dan sekarang tinggal di Semarang. Saya pernah bersekolah di STAN dan sekarang bekerja sebagai Auditor. | Phone: 0856-9579-1321 | IG: @instagiman | Twitter: @pakgiman

Tinggalkan Balasan