Pahlawan

Pahlawan biasanya dihasilkan dari konflik. Konflik selalu memakan korban. Selalu ada pihak yang dirugikan. Saya mendambakan kehidupan yang damai tanpa adanya konflik, korban dan kerugian.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (online) menuliskan dua arti dari kata pahlawan sebagai: (1) Orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; (2) Pejuang yang gagah berani.

Orang yang berhasil menyelamatkan banyak orang dari kecelakaan hingga tidak ada korban jiwa adalah seorang pahlawan. Tidak ada korban jiwa bukan berarti tidak ada korban sama sekali. Kejadian yang hampir mencelakakan mereka meski tidak menyebabkan mereka meninggal bukan berarti mereka tidak terluka. Ada trauma yang mungkin menghantui mereka. Jika tidak ada korban, maka tidak layak disebut pahlawan. Ini sejalan dengan pemahaman saya mengenai konsep keseimbangan.


Mentalitas Kepahlawanan

Saya kira saya perlu menyampaikan ini karena saya melihat banyak orang yang ingin menjadi pahlawan. Tidak ada yg salah dengan keinginan itu, selama memang dilakukan dengan cara yang benar. Saya melihat banyak orang mencari pengakuan.

Dari sisi mentalitas saya suka. Siapapun harus punya mentalitas yang berani, berbudi luhur, jujur, rendah hati dan rela berkorban. Saya setuju dengan itu. Saya ingin dan berusaha menjadi pribadi yang seperti itu. Tapi penghargaan dan pengakuan seharusnya tidak pernah menjadi tujuan.

Mungkin perlu saya ceritakan pekerjaan saya, untuk memberi gambaran mengapa saya tidak ingin menjadi pahlawan. Saya dan teman-teman bekerja sebagai auditor. Banyak dari mereka yang ingin menunjukkan prestasi dengan mendapatkan tagihan yang besar. Seolah dengan mendapat tagihan yang besar, dia merasa telah menjadi pahlawan bagi institusi.

Saya tidak menyukai ini. Tagihan yang besar hanya ditemukan dari temuan yang sistematis dan berkelanjutan. Pasti ada kesalahan yang luar biasa hingga menyebabkan tagihan membesar. Menurut saya ini bukan hal yang baik. Bukan berarti saya akan menutup mata pada pelanggaran yang menyebabkan tagihan yang besar. Saya hanya tidak menyukai ini.

Saya hanya ingin melihat dunia ini damai. Orang-orang bahagia tanpa konflik dan tanpa korban. Saya ingin jadi bagian dari dunia tanpa pahlawan. Dunia dimana semua orang bahagia. Semua berjalan sesuai cita dan harapan.


Pahlawan Tanpa Korban

Saya berpendapat bahwa pahlawan selalu memakan korban. Lalu, bagaimana dengan guru, yang juga disebut sebagai pahlawan, meski dibelakangnya dituliskan tanpa tanda jasa. Menurut saya itu adalah penghargaan yang berlebihan. Guru adalah guru. Seorang yang berjasa besar. Wajib kita hormati, teladani dan banggakan. Penyebutan itu, dengan tidak mengurangi rasa hormat, menurut saya adalah penghargaan yang berlebihan. Buktinya, dia tidak diberikan tanda jasa.

Saya bahkan berpikir penyebutan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa adalah bayaran paling rendah yang kita berikan kepada para guru. Mereka layak mendapat lebih dari itu. Penyebutan itu tidak sebanding dengan peran yang telah mereka berikan. kompensasi ini tidak sepadan dengan jasa mereka.


Admin

Saya berasal dari Weleri dan sekarang tinggal di Semarang. Saya pernah bersekolah di STAN dan sekarang bekerja sebagai Auditor. | Phone: 0856-9579-1321 | IG: @instagiman | Twitter: @pakgiman