Raja Buah adalah Pisang

Pisang adalah buah terbaik. Dia layak dinobatkan sebagai raja para buah. Mungkin menyadari hal itu, pisang sendiri ada yang bernama Pisang Raja.


Kelebihan Buah Pisang

Pisang memiliki bentuk yang khas. Buah pisang berbentuk tandan. Satu tandan bisa berisi beberapa sisir. Masing-masing sisir berisi beberapa buah. Satu buah cukup untuk sekali makan. Satu sisir cukup untuk sekelurga. Satu tandan cukup untuk konsumsi seminggu.

Pisang matang secara bertahap. Dimulai dari sisir paling atas terus turun ke bawah. Satu tandan tidak harus habis sekali makan. Pisang juga tidak mengenal musim. Pisang berbuah sepanjang tahun.

Kematangan pisang ditandai dengan perubahan warna yang sangat jelas. Secara umum, pisang mentah berwarna hijau sedang pisang yang matang berwarna kuning. Ada juga pisang yang meskipun matang dia tetap berwarna hijau.

Salah satu buah yang mempunyai bungkus alami adalah Pisang. Pisang tidak memerlukan bungkus tambahan. Sangat mudah untuk membukanya. Monyet pun tahu bagaimana cara mengupas buah pisang.

Pisang memiliki banyak jenis dan tersebar di seluruh dunia. Di pulau Jawa saja puluhan jenis pisang.  Ada pisang raja, pisang kepok, pisang mas, pisang ambon, pisang cavendish, pisang tanduk dan lain sebagainya.

Pohon pisang tidak terlalu tinggi. Batang pohon pisang juga tidak keras. Menebang pohon pisang cukup menggunakan pisau dapur. Satu pohon pisang hanya akan berbuah satu kali. Namun menanam pohon pisang tidak perlu dilakukan berulang. Pisang berkembang biak dengan cara bertunas hingga akhirnya pohon pisang akan berbentuk rumpun.

Daun pisang juga mempunyai banyak kegunaan. Dahulu ketika piring masih mahal, orang makan beralaskan daun pisang. Sekarang daun pisang juga masih sering digunakan sebagai alas untuk jamuan makan. Daun pisang juga sering dijadikan bungkus makanan.

Selain biasa dikonsumsi sebagai buah, pisang juga dapat diolah bahan masakan. Pisang bisa direbus, digoreng, dibakar atau bahkan dijemur. Pisang goreng, pisang hijau, nagasari, adalah nama-nama masakan terkenal yang dibuat dengan bahan dasar pisang.

Dengan segala pertimbangan ini, sangat logis bagi saya untuk menetapkan pisang sebagai raja buah.


Kurangnya Durian

Masyarakat sering menyebut bahwa Durian adalah raja buah. Saya tidak sependapat dengan hal ini. Selain harga per butir yang  lebih mahal dibanding buah lainnya, apa alasan yang menjadikan Durian layak disebut raja buah? Apakah layak menobatkan Durian sebagai raja para buah hanya dari superioritas harga dibanding yang lain?

Harga terkait erat dengan supplies and demand. Mahalnya harga Durian menurut saya bukan karena demand yang tinggi tapi lebih karena supplies yang rendah. Durian adalah buah musiman. Harga yang mahal menurut saya malah bukan suatu yang positif. Bukan suatu kelebihan yang layak dibanggakan.

Sewaktu merantau ke Medan, saya pernah ikut bapak kos berjualan durian. Kami berjualan mulai jam 3 sore sampai jam 12 malam. Satu bulan penuh selama bulan puasa. Saya sendiri tinggal cukup lama di kota Medan. Kota ini juga terkenal dengan buah Duriannya. Bisa dibilang saya cukup mengenal buah durian.

Durian memiliki aroma yang sangat khas. Menyengat dan tajam. Ada yang benar-benar menyukainya. Ada pula yang benar-benar tidak menyukainya. Beberapa hotel melarang tamunya membawa buah durian karena aromanya yang tidak mudah hilang. Buah Durian juga dilarang untuk masuk ke kabin pesawat.

Durian mempunyai kulit berduri yang tajam. Tidak mudah mengupasnya. Buah Nangka juga berduri, tapi tidak sejahat kulit durian. Jika kulit buah biasanya melindungi buah bagian dalam, kulit durian seolah ingin melukai siapapun yang mendekatinya.

Sudah berkulit tajam, berbuah besar, pohon Durian juga tinggi. Ketiga elemen ini bisa berbahaya jika mereka bekerjasama untuk melukai manusia.

Meskipun pernah berjualan Durian, saya sampai sekarang tidak pernah bisa memilih mana yang masih mengkal dan mana yang sudah matang. Saya juga tidak bisa membedakan mana buah durian yang manis dan mana yang pahit.

Ketika berjualan ini saya juga baru tahu bahwa beda kota musim berbuahnya durian pun tidak berbarengan. Seolah sesama pohon Durian saja mereka tidak kompak.

Rasa buah durian ada yang manis dan ada yang pahit. Seolah mempunyai daya pelet, rasa pahit buah durian ini malah dicari para penggemarnya.


Metodologi

Saya sering menggunakan cerita mengenai Pisang dan Durian ini ketika berbicara tentang metodologi. Dalam menilai sesuatu, kita sebaiknya mempertimbangkan banyak hal. Jangan mengedepankan emosi. Lakukan penilaian secara adil dan objektif.

Pisang ada didekat kita, harganya murah dan pasti manis. Kenapa ketika memilih raja buah kalian malah menunjuk Durian yang suka datang dan pergi sesuka hati. Ini seperti skenario cerita cinta anak kampung. Deketnya sama siapa, jadiannya sama siapa. Yang selalu ada bukan jaminan akan dipilih.

Perseteruan pisang dan durian ini serupa dengan dengan perseteruan Kambing dan Rusa. Rusa yang lebih banyak memenangkan beberapa poin penilaian, tetap saja kambing yang paling banyak dipelihara. The best does not always win.


Duta Buah Antar Galaksi

Seandainya ada pertukaran buah antar galaksi, apa jadinya jika kita mengirimkan Durian sebagai duta buah dari Bumi? Kita anggap saja mereka dari planet Namec.

Namec  : “Ini buah apa? Sudah kami tanam bertahun, sudah tinggi pohonnya tapi kok tidak berbuah juga?”

Bumi     : “Sabar om, nanti berbuahnya nunggu musim.”

Namec  : “Musim apa?”

Bumi     : “Musim Durian lah”

Namec  : “Kapan itu musim Durian”

Bumi     : “Ya nanti kalo pohon Durian mulai pada berbuah.”

Namec  : “Kamu bercanda ya?”

Bumi     : “Udah tunggu aja, dijamin gak nyesel.”

Selang waktu berlalu akhirnya pohon Durian berbuah juga:

Namec  : “Ini buah untuk dimakan atau ranjau kapal perang, kok berduri?”

Bumi     : “Ya untuk dimakan lah om, kan deal awal kita pertukaran buah, bukan trading senjata.”

Namec  : “Trus ini cara membukanya bagaimana?”

Bumi     : “Udah ada yang retak belum? Biasanya retaknya dari ujung. Ada alurnya. Tinggal dibelah.”

Namec  : “Yang retak saya buang. Baunya bikin kucing saya muntah. Saya kira itu reject.”

Bumi     : “Oooo, Namec bodoh, yang udah retak itu lah yang mateng. Kok malah dibuang.”

Namec  : “Sudah saya tanam. Saya tunggu lama. Begitu berbuah ternyata berduri. Baunya busuk pula. Sekarang kalian bilang kami bodoh. Sepertinya sedari awal kalian memang sengaja mengerjai kami. Tidak mungkin ini adalah buah terbaik dari planet kalian. Atau mungkin pikiran kalian memang perlu dimerdekakan. Baiklah, kita perang saja!”

***

Admin

Saya berasal dari Weleri dan sekarang tinggal di Semarang. Saya pernah bersekolah di STAN dan sekarang bekerja sebagai Auditor. | Phone: 0856-9579-1321 | IG: @instagiman | Twitter: @pakgiman

Tinggalkan Balasan