Mindogaweni

Mindogaweni adalah istilah dalam bahasa Jawa. Terjemahan bebasnya adalah mengulangi pekerjaan. Kata ini cenderung memiliki makna negatif.

Saya pernah menuliskan status di aplikasi whatsapp. Saya menulis: “Tidurnya orang berilmu lebih baik daripada bekerjanya orang bodoh.” Ada yang salah paham dengan kalimat itu dan menganggap saya terlalu merendahkan.

Menurut saya tidak. Jangankan tidurnya orang berilmu, bahkan tidurnya orang bodoh tetap lebih baik daripada dia bekerja. Orang yang bodoh mengerjakan sesuatu secara salah. Bukannya memberikan nilai tambah, dia malah menyebabkan kita harus mengulangi pekerjaannya.

Apalagi jika pekerjaan itu adalah bangunan fisik. Mengulangi pekerjaan tidak bisa dilakukan tanpa merubuhkan yang sudah dibangunnya terlebih dahulu.

Bekerja bersama orang bodoh bukannya mengurangi pekerjaan menjadi lebih ringan, tapi malah akan menambah pekerjaan.

Indikasinya kebodohan ini sederhana saja. Jika ada yang pernah mengatakan kepada kita: Udah kamu diam saja disitu, biar saya yang kerjakan. Daripada nanti nambah ribet.” Itu indikasi kita bodoh. Mulailah belajar. Baca Selengkapnya

Petani dan Nelayan

Petani dan nelayan mungkin adalah dua pekerjaan yang paling populer di dunia ini. Pekerjaan ini telah ada sejak jaman dahulu kala. Sekarang pun pekerjaan itu masih ada dan tetap lestari.

Seiring perkembangan zaman, sekarang bermunculan banyak pekerjaan. Guru, penulis, polisi, importir, pelawak dan banyak lagi lainnya. Semua hadir sejalan dengan semakin kompleksnya kehidupan manusia.

Apapun nama pekerjaannya, pada dasarnya dapat digolongkan ke dalam dua jenis pekerjaan tadi. Kalau tidak petani, ya nelayan. Petani dan nelayan tidak hanya berbeda dari apa yang dikerjakannya. Mereka juga memiliki konsep yang jauh berbeda.

Keduanya adalah pekerjaan yang baik. Masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihan. Petani mengajarkan investasi. Tapi investasi membutuhkan waktu. Di sisi lain, nelayan memberikan hasil yang cepat. Keduanya bisa saling melengkapi.


Petani

Petani pekerjaannya bertani. Dia menanam. Petani berurusan dengan lahan. Bisa berupa sawah, ladang atau kebun, yang digunakan sebagai media tanam. Peternak udang juga bisa disebut sebagai petani. Dia mengolah lahan berupa tambak yang merupakan media pembesaran udang.

Sebelum menanam, petani mempersiapkan lahan agar nantinya benih bisa tumbuh dengan baik. Sawah perlu dibajak. Tambak perlu dikeringkan. Ladang dan kebun perlu dibersihkan dari gulma. Lahan yang berbeda membutuhkan treatment yang berbeda pula. Apa yang nantinya akan ditanam juga menentukan bagaimana lahan dipersiapkan.

Setelah mengolah lahan, selanjutnya adalah menanam. Tanaman harus sesuai lahan, dan lahan harus sesuai jenis tanaman. Jumlah pohon harus disesuaikan dengan luasnya lahan. Satu petani bisa mempunyai sepetak atau dua petak tanah. Bahkan ada yang sampai berhektar luasnya. Tanaman harus dirawat. Perawatan harus sesuai denagn jenis dan umur tanaman. Sawah harus dipantau irigasinya. Ladang perlu dipupuk. Udang harus diberi makan.

Yang menarik dari semua proses bertani adalah ketika datang masa panen. Mengolah ladang, mengatur irigasi, menanam bibit dan memupuk tanaman, semua adalah biaya. Penghasilan hanya diperoleh ketika panen tiba. Hasil panen diharapkan mampu menutup semua biaya.

Hasil panen tidak hanya ditentukan oleh usaha petani. Petani hanyalah membantu agar tanaman dapat tumbuh dengan lebih baik. Tanaman bertumbuh dan seolah juga bekerja untuk petani. Ini adalah sebuah konsep investasi. Kita mendapat penghasilan dari usaha orang lain.


Nelayan

Nelayan bekerja menangkap ikan. Nelayan tidak berurusan dengan lahan dan tanaman. Nelayan mengurusi kapal dan melaut. Dia mendatangi titik dimana ikan berkumpul, menangkapnya lalu menjualnya.

Nelayan pandai membaca kompas. Mengerti bagaimana mengendalikan kapal dan memasang jaring. Dia piawai menangkap ikan. Nelayan adalah seorang eksekutor. Dia memiliki keahlian dalam melakukan pekerjaannya.

Menjadi seorang nelayan akan sangat baik untuk meningkatkan keahlian. Jika kelak dia memutuskan untuk berinvestasi, dia sudah mengetahui detail pekerjaan yang harus dilakukan oleh orang yang diperkerjakannya.

Nelayan menghasilkan lebih cepat dari petani. Nelayan tidak menanam. Yang dilakukan nelayan adalah memanen. Dari ikan yang tidak dipeliharanya.

Inti dari pekerjaan nelayan adalah mendapatkan hasil dari apa yang dikerjakannya. Nelayan yang tidak melaut, tidak akan mendapatkan ikan. Dia bisa bekerja sendiri, bekerja bersama orang lain atau bekerja untuk orang lain. Dia tidak mempekerjakan orang lain.


Hakikat Pekerjaan

Bekerja di pertanian tidak selalu menjadikannya seorang petani. Bekerja di perikanan juga tidak pasti menjadikannya nya seorang nelayan. Buruh tani, yang disuruh mengolah lahan dan menanam pohon kemudian mendapat bayaran setelah pekerjaannya selesai, sejatinya adalah seorang nelayan. Bos kapal yang menyuruh orang melaut dan menangkap ikan lalu membayar mereka setelah pulang, pada dasarnya adalah seorang petani.

Zaman berganti, bertani sekarang tidak harus dilakukan di ladang, sawah atau kebun. Lahan juga tidak harus berupa tanah. Ruko, website, pabrik, saham, perusahaan bahkan akun ecommerce bisa dianggap sawah selama bisa menghasilkan. Dan karena tidak berupa tanah, benih yang ditanam juga bukan pohon.

Nelayan juga tidak selalu seseorang yang melaut. Guru, Polisi dan Buruh juga bisa dianggap sebagai nelayan. Mereka bekerja dan mendapat bayaran. Penghasilan mereka juga terukur. Tidak seperti petani yang hasilnya bisa tidak terduga.

Petani dan nelayan sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan. Bagi seorang yang berjiwa petani, tentu dia akan melihat bahwa petani lebih baik. Begitupun sebaliknya, bagi orang dengan jiwa seorang nelayan, maka dia akan melihat banyak kelebihan dari jenis pekerjaan itu.

Petani memiliki kelebihan dalam hal keleluasaan waktu. Tapi dia juga menanggung resiko yang besar. Bertani juga membutuhkan modal awal. Nelayan di sisi lain mungkin terlihat melelahkan. Tapi hasilnya nyata. Bekerja pada orang lain juga dapat menjadi sarana pembelajaran.

Saya menyarankan untuk menjalani keduanya. Petani bisa gagal panen. Nelayan bisa terhalang badai. Berpijak pada dua kaki lebih baik dari pada bertumpu pada salah satunya. Pasti melelahkan dan menguras energi. Tapi saya yakin bahwa hasilnya pasti juga akan sebanding.

Bekerjalah sebagai nelayan. Sisihkan hasil yang didapat untuk berinvestasi. Bertani tidak mengharuskan kehadiran fisik. Pohon yang kita tanam tidak harus ditunggui setiap hari. Belilah saham, simpanlah deposito. Jika tabungan cukup bisa juga membeli ladang untuk digarap atau rumah untuk dikontrakkan.


Ayo Bertani

Tidak ada nelayan yang kaya. Buruh, yang termasuk kategori nelayan, juga tidak akan pernah kaya. Kekayaan hanya bisa didapat dari bertani. Kita harus berinvestasi jika kita ingin menghasilkan sesuatu yang lebih daripada apa yang bisa kita kerjakan dengan kedua tangan dan kaki kita.

Karyawan yang rajin menabung, dia akan lebih kaya dari karyawan lain yang tidak menabung. Tapi dia tidak akan pernah lebih kaya dari mereka yang menginvestasikan tabungannya. Hanya dengan bertani, dalam artian berinvestasi, kita memiliki kemungkinan untuk menjadi besar dan bertumbuh.

Saya menulis buku sebagai bentuk investasi. Proses menulis yang membutuhkan waktu berbulan lamanya. Sama sekali tidak menghasilkan. Ketika nanti masuk proses pencetakan malah akan memerlukan biaya. Tapi ketika buku ini berhasil saya jual, di situlah saya akan mulai memetik hasil. Seberapa besar? Nanti kita lihat.

***

Sebanding

Tulisan ini masih seirama dengan tulisan sebelumnya. Keseimbangan tidak harus sama dalam jumlah, tapi pasti sebanding. Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Tupai melompat berkali-kali dan jatuhnya hanya sekali. Secara jumlah mungkin tidak sama, tapi ini seimbang. Kesenangan melompat berkali-kali bisa terhapus musnah hanya oleh jatuh yang cuma sekali.

Panas setahun dihapus hujan seharian. Setahun sama dengan 365 hari. Pepatah ini seimbang kerena keduanya sebanding. Penguapan selama setahun bisa jadi sama jumlahnya dengan hujan seharian.


Ono rego ono rupo.

Banyak penjaja yang sering mengatakan: “Barang ini murah, tapi tidak murahan!” Saya tidak pernah percaya kata-kata ini. Alasannya sederhana. Tidak ada barang di rumah yang berharga murah tapi berkualitas bagus. Semua yang berkualitas bagus pasti ada harganya. Penjaja mengatakan itu karena kita belum tahu barangnya seperti apa. Mereka berharap kita mempercayainya.

Kalimat itu memang menarik. Makanya sering sekali menjadi kalimat pembuka dari para penjual. Mereka berusaha memikat kita untuk membeli barang dagangannya. Mereka berusaha memberikan gambaran mengenai produknya. Mereka yang membeli, kemungkinan terbuai bujuk rayu. Lupa bahwa harga akan selalu sebanding dengan kualitas.

Ketika ongkos produksi murah dan barang diminati banyak orang, dia tidak akan menjual barang itu dengan murah. Yang akan dia lakukan adalah meningkatkan margin keuntungan. Dia akan menjualnya dengan harga tinggi.

Dia menjual dengan harga murah mungkin karena tidak ada peminatnya. Minat masyarakat pastinya akan sebanding dengan kualitas produk.

Ini berbeda dengan barang diskon. Barang diskon bisa jadi adalah barang yang berkualita. Bisa saja penjual sedang menghabiskan sisa stock barang lama. Keuntungan sudah diambil dari penjualan sebelumnya. Barang baru juga bisa saja didiskon. Ini dilakukan jika produsen dia sedang memperkenalkan produknya untuk menggaet pasar.

Baca Selengkapnya

Cara Belajar

Saya punya 3 cara belajar. Saya merasa ini cara paling efektif ketika saya mempelajari sesuatu. Bisa jadi ini adalah masukan baru untuk kalian. Atau setidaknya menguatkan cara belajar yang sebelumnya yang telah kalian praktekkan.

  1. CBAB: Cara Belajar Anak Bayi
  2. BTDA: Baca, Tulis, Diskusi dan Ajarkan
  3. TUSE: Tulis Ulang Sampe Elek

Beda materi yang mau dipelajari, beda cara saya mempelajarinya. Bisa menggunakan salah satu, atau gabungan dari cara belajar tersebut.

Belajar itu menyenangkan. Yang menyedihkan itu ujiannya. Takut dapet nilai jelek. Takut kalah sama yang lain. Pola pendidikan di zaman saya memang begitu. Tidak hanya memberikan materi, pendidikan juga sarat dengan nuansa berkompetisi. Pengajar lebih lebih memberi perhatian pada siswa berprestasi dibanding mereka yang tertinggal.

Tapi itu dulu. Sekarang seharusnya sudah tidak begitu lagi. Semakin banyak orang pintar dunia akan jadi semakin baik. Kita tidak butuh orang yang bisa mengalahkan orang lain. Yang kita butuhkan adalah orang yang bisa membantu orang lain. Orang yang mau berbagi dan mengajari orang lain. Mengangkat mereka mencapai taraf hidup yang lebih baik.


CBAB: Cara Belajar Anak Bayi

Pernahkah kalian melihat cara bayi belajar? Kalian yang sudah mempunyai anak pasti pernah melihatnya. Hanya saja mungkin kalian tidak mengamati dan menelaahnya.

Bayi yang sedang belajar berjalan, dia melakukannya tanpa membaca buku. Dia bahkan belum bisa membaca. Dia melakukannya dengan mengikuti naluri dan mencoba segala hal. Seringkali terjatuh dan menangis karena rasa sakit. Tapi dia akan mengulanginya lagi dan lagi. Dia tidak takut gagal. Dia tidak takut sakit. Dia tidak berpikir bahwa sakit itu seharusnya dihindari. Itu pengalaman baru baginya. Baca Selengkapnya

Konversi

Yang saya maksud konversi disini adalah kemampuan atau keahlian untuk merubah sesuatu menjadi bentuk yang berbeda. Konversi ini masih terkait dengan tulisan sebelumnya mengenai materialitas. Konversi dan materialitas sama-sama berbicara mengenai nilai tambah.

Materialitas mengajarkan untuk memindahkan, menambah, mengurangi, menyajikan atau menghadirkan suatu barang kepada orang yang tepat. Materialitas membahas jumlah, waktu, lokasi dan subjektifitas. Barangnya tetap sama.

Konsep konversi berusaha melihat apakah suatu barang kita memiliki kemampuan untuk berubah menjadi bentuk yang lain atau menjadi alat bantu untuk menghasilkan barang lain yang bermanfaat bagi kita. Konversi membahas mengenai perubahan bentuk, kebertingkatan, penggabungan dan alat konversi paling utama. Kadang ada barang yang tidak bermanfaat sampai kita merubahnya ke bentuk yang lain.

Tidak ada suatu apapun yang diciptakan Tuhan dengan sia-sia. Semuanya pasti ada gunanya. Semua ada manfaatnya. Konsep konversi dan materialitas akan membantu kita melihat nilai dari suatu barang. Memiliki kemampuan yang baik dalam melihat nilai dari suatu hal akan membuat kita lebih bersyukur. Kita akan bahagia dengan barang apapun yang kita punyai, dengan kondisi apapun yang kita alami.


Perubahan Bentuk

Semua orang tahu bahwa kambing makan rumput dan kita makan daging. Kita tidak memakan rumput, tapi dengan perantaraan kambing, rumput bisa berguna untuk kita. Kambing adalah alat bantu untuk mengkonversi rumput menjadi daging di meja makan kita.

Sesuatu tidak akan berharga sampai kita memiliki perangkat untuk mengkonversinya menjadi sesuatu yang berguna. Rumput segar seluas lapangan bola pun tidak akan berharga bagi manusia yang tidak memiliki kambing.

Seringkali kita mempunyai banyak hal disekitar kita yang jumlahnya berlimpah. Kelegaan waktu, banyaknya teman, kencangnya internet kantor hanya sebagian kecil dari contoh yang bisa saya sebutkan. Kita mengetahuinya tapi tidak menyadarinya. Kita memandangnya tapi tidak melihatnya.

Angka berapapun jika dikalikan dengan nol hasilnya akan nol. Sesuatu yang melimpah di sekitar kita, jika kita tidak mendapat manfaat darinya tidak akan kita perhatikan. Wajar jika kita tidak melihatnya. Kemanfaatan akan menambah nilai. Nilai akan menentukan perhatian kita. Semakin besar nilainya, perhatian kita akan semakin besar. Baca Selengkapnya