Mindogaweni

POSTING MINDOGAWENI DAN POSTING LAIN
YANG TERGABUNG
DI MENU/KATEGORI MENULIS INI
MASIH DALAM PROSES PENULISAN,
MOHON MAAF BILA TAMPILANNYA
MASIH BERANTAKAN


Mindogaweni adalah istilah dalam bahasa Jawa. Terjemahan secara bebasnya adalah mengulang pekerjaan. Kata ini cenderung memiliki makna negatif.

Saya pernah menuliskan status di aplikasi whatsapp. saya menulis: Tidurnya orang berilmu lebih baik daripada bekerjanya orang bodoh. Mungkin ada yang salah paham dan saya dianggap terlalu merendahkan. Menurut saya tidak. Jangankan tidurnya orang berilmu, bahkan tidurnya orang bodoh tetap lebih baik daripada bekerjanya orang bodoh. logikanya begini, kadang ada orang yang mengerjakan sesuatu secara salah, artinya dia bukan bikin added value, malah menyebabkan kita harus kerja dua kali. ibarat bangun rumah, pertama adalah merubuhkan apa yang sudah dibagunnya dan kemudian membangunnya ulang, karena rumah itu dibuat secara bodoh, berbahaya untuk ditinggali misalnya.

indikasinya sederhana sih, kalo ada orang yg pernah teriakin kita: “udah lu diem aja disitu, biar gw yg kerjain, daripada nambah ribet” nah, itu indikasi kita bodoh dan harus banyak belajar.


Tingkatan Kebodohan

Mindogaweni sering dilakukan oleh orang yang bodoh dan orang yang tidak tahu kalo dia bodoh. kebodohan itu sendiri ada tiga tingkatan:

  1. orang yang pura-pura bodoh
  2. orang yang tahu dia bodoh
  3. orang yang tidak tahu kalo dia bodoh

Baca Selengkapnya

Korektif

Korektif, dalam artian sifat atau perbuatan mengkoreksi kesalahan orang lain, sebenarnya adalah perbuatan yang baik. Meskipun demikian, bukan berarti hal tersebut tidak memiliki efek samping. Orang yang terbiasa mengkoreksi orang lain sering kali dijauhi oleh banyak orang.

Kata korektif merupakan saduran dari kata corrective. Dalam bahasa inggris corrective artinya memperbaiki atau perbaikan. KBBI online menuliskan arti kata dari korektif adalah bersifat korek (memperbaiki, teliti, berdisiplin). Kata ini sebenarnya mempunyai makna yang positif dan mulia. Seiring perkembangan, kata ini perlahan mulai dimaknai negatif. Ini terjadi karena orang pada dasarnya tidak nyaman untuk dikoreksi.

Kata korektif ini mengandung kata korek, yang selain berarti korek-api, juga bisa berarti korek-masa-lalu. Serupa dengan tulisan saya tentang Larangan, kedekatan kedua kata ini pada akhirnya juga akan berpengaruh juga pada pemaknaan kata-kata tersebut.


Motif

Ada dua motif yang menggerakkan orang untuk berlaku korektif. Pertama adalah untuk memperbaiki kesalahan orang lain. Kedua adalah untuk menunjukkan bahwa dia benar dan yang lain salah. Kedua motif ini ibarat siang dan malam. Satu terang sedang yang lainnya gelap. Motif pertama menurut saya sangat mulia, sedang motif kedua saya lebih cenderung menilainya negatif.

Jangan tanyakan motif ini kepada pelakunya. Mereka pasti akan menjawab bahwa mereka melakukan itu untuk memperbaiki. Lihatlah motif ini dari bagaimana dia melakukannya. Motif pertama fokusnya adalah orang lain, sedang motif kedua fokusnya adalah diri sendiri.

Jika dilakukan sekali-dua-kali, mungkin tidak akan menjadi masalah. Tapi jika perbuatan ini dilakukan berkali-kali dan menjadi kebiasaan menurut saya efeknya akan sangat tidak baik. Kita akan lebih mudah dalam melihat kesalahan orang dibanding mencari solusi atas permasalahan itu.


Perilaku Korektif Menjauhkan Orang

Efek luar (outside)

Cara penyampaian koreksi sangat memegang peranan yang penting. Motif sangat menentukan cara penyampaian. Orang yang mengkoreksi orang lain dengan motif menunjukkan superioritas dirinya di depan orang lain, pasti tidak akan mengkoreksi secara diam-diam. Kesalahan orang adalah panggung untuknya.

Sejalan dengan konsep keseimbangan, ketika kita mendorong orang kedepan, dia pasti akan menjejak kita ke belakang. Mengkoreksi kesalahan orang lain akan membuatnya lebih baik, tapi hal ini juga berefek samping. Dia pasti akan merasa tidak nyaman ketika dikoreksi. Ketidaknyamanan ini harus berbalas. Bisa jadi dia akan menjauhi kita. Meskipun itu dilakukannya tanpa dia menyadarinya dan tanpa niatan.

Efek dalam (inside)

Kita akan lebih jago dalam mencari kesalahan. Bagaimana solusi atas kesalaan itu urusan belakangan. sistem pertahanan diri. Baca Selengkapnya

Peradaban

Peradaban berasal dari kata adab. Wikipedia menuliskan bahwa beradaban mempunyai berbagai arti dalam kaitannya dengan masyarakat manusia. Mari belajar dari sejarah bangsa Jepang. Ada hal yang begitu menginspirasi dari sejarah mereka.

Beberapa bangsa di muka bumi ini berhasil mencapai peradaban yang tinggi di masa lalu. Hal ini terlihat dari bahasa, pakaian, dan peninggalan sejarah lainnya. Saya punya sudut pandang tersendiri dalam membandingkan beberapa diantara bangsa-bangsa itu. Saya melihat dari senjata yang mereka ciptakan dan dan kegunaannya.

Coba sejenak kita berpikir tentang bangsa-bangsa di muka bumi ini. Lihatlah mesir, amerika, jepang. Lalu lihatlah bangsa sendiri.

Jepang dengan samurainya.

Mesir dengan ke khalifahannya.

Amerika dengan demokrasinya.

Indonesia, dengan raja-rajanya.

Bangsa-bangsa kuno di muka bumi ini memiliki perdapan yang unggul. Kadang aku suka iseng mikir yg gak jelas. Salah satu contohnya adalah aku suka memperbandingkan bangsa-bangsa di muka bumi ini. Misalkan saja aku memperbandingkan jepang, mesir, amerika.

Indonesia juga berhasil mencapai kejayaan di masa lalu pada masa kerajaan Majapahit. Keris dan batik adalah bukti peninggalan sejarah yang bahkan telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.

Pahlawan

Pahlawan biasanya dihasilkan dari konflik. Konflik selalu memakan korban. Selalu ada pihak yang dirugikan. Saya mendambakan kehidupan yang damai tanpa adanya konflik, korban dan kerugian.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (online) menuliskan dua arti dari kata pahlawan sebagai: (1) Orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; (2) Pejuang yang gagah berani.

Orang yang berhasil menyelamatkan banyak orang dari kecelakaan hingga tidak ada korban jiwa adalah seorang pahlawan. Tidak ada korban jiwa bukan berarti tidak ada korban sama sekali. Kejadian yang hampir mencelakakan mereka meski tidak menyebabkan mereka meninggal bukan berarti mereka tidak terluka. Ada trauma yang mungkin menghantui mereka. KAlo tidak ada korban, maka tidak layak disebut pahlawan. Ini bertentangan dengan kepercayaan saya tentang keseimbangan.


Mentalitas Kepahlawanan

Dari sisi mentalitas saya suka. Siapapun harus punya mentalitas yang berani, berbudi luhur, jujur, rendah hati dan rela berkorban. Saya setuju dengan itu. Saya ingin dan berusaha menjadi pribadi yang seperti itu. Tapi penghargaan sebagai pahlawan seharusnya tidak menjadi tujuan.

Saya kira saya perlu menyampaikan ini karena saya melihat banyak orang yang ingin menjadi pahlawan. Tidak ada yg salah dengan keinginan itu, selama memang dilakukan dengan cara yang benar. Saya melihat banyak orang mencari pengakuan.

Mungkin perlu saya ceritakan pekerjaan saya, untuk memberi gambaran mengapa saya tidak ingin menjadi pahlawan. Saya dan teman-teman bekerja sebagai auditor. Banyak dari mereka yang ingin menunjukkan prestasi dengan mendapatkan tagihan yang besar. Seolah dengan mendapat tagihan yang besar, dia merasa telah menjadi pahlawan bagi institusi.

Saya tidak menyukai ini. Tagihan yang besar hanya ditemukan dari temuan yang sistematis dan berkelanjutan. Pasti ada kesalahan yang luar biasa hingga menyebabkan tagihan membesar. Menurut saya ini bukan hal yang baik. Bukan berarti saya akan menutup mata pada pelanggaran yang menyebabkan tagihan yang besar. Saya hanya tidak menyukai ini.

Saya hanya ingin melihat dunia ini damai. Orang-orang bahagia tanpa konflik dan tanpa korban. Saya ingin jadi bagian dari dunia tanpa pahlawan. Dunia dimana semua orang bahagia. Semua berjalan sesuai cita dan harapan.


Pahlawan Tanpa Korban

Saya berpendapat bahwa pahlawan selalu memakan korban. Lalu, bagaimana dengan guru, yang juga disebut sebagai pahlawan, meski dibelakangnya dituliskan tanpa tanda jasa. Menurut saya itu adalah penghargaan yang berlebihan. Guru adalah guru. Seorang yang berjasa besar. Wajib kita hormati, teladani dan banggakan. Dengan segala hormat, penyebutan guru sebagai pahlawan adalah penghargaan yang berlebihan. Buktinya, dia tidak diberikan tanda jasa.

Kompas

Setiap orang pasti punya kompas yang mengarahkan bagaimana kecenderungan dia dalam menjalani hidup. Kalian pasti punya teman yang religius meskipun bukan ustadz. Kalian juga pasti pernah melihat orang yang gila militer padahal pekerjaannya gak ada hubungan dengan keamanan. Pasti juga akan ada orang yang otaknya selalu duit dan duit mulu. Maunya semuanya didagangin.

Saya melihat ini begitu jamak. Seolah ada pola yang bisa dibaca. Ada 3 yang menurut saya paling dominan:

  1. Religius
  2. Humoris
  3. Pedagang
  4. Sportif

Baca Selengkapnya